
Dengan cepat, Demam Berdarah Dengue (DBD) menelan korban ratusan nyawa. Berikut kisah duka dua ibu yang kehilangan buah hatinya.
Malam-malam belakangan ini begitu sepi bagi pasangan Arpiah (35) dan Suhartadi (37).
Biasanya, menjelang tidur Arpiah meninabobokan si bungsu Muhamad Baihaqi (3,5). Namun, anak ketiga dari tiga bersaudara yang lucu itu kini tiada lagi di sisinya. “Sulit sekali bagi saya memejamkan mata. Wajah si bungsu terus melintas dalam benak saya,” tutur Arpiah. Jangankan tidur, makan pun terasa tak enak bagi Arpiah. “Susah sekali bagi saya menelan makanan. Begitu juga dengan Mas Adi (panggilan Suhartadi). Meninggalnya Baihaqi benar-benar pukulan berat bagi saya,” rintihnya.
Wajar saja pasangan ini sangat terpukul. Apalagi, Baihaqi adalah satu-satunya anak lelaki yang sudah lama ditunggu pasangan ini. Namun keganasan wabah demam berdarah tiba-tiba mencabut kebahagian pasangan ini.
Dikisahkan Arpiah, Baihaqi sakit mulai Minggu (15/2). “Badannya anget. Saya memberinya obat penurun panas. Namun, panasnya enggak turun-turun,” ujar Arpiah saat ditemui di rumahnya yang sederana di Salemba Tegalan, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, Minggu (22/2).
Keesokan harinya, Arpiah membawa Baihaqi ke mantri kesehatan tak jauh dari rumahnya. Setelah diberi obat, panasnya mulai turun. “Tampaknya dia sudah baikan. Dia sudah lari-larian. Anaknya lincah betul. Meski sakit, dia enggak mau tiduran. Malah masih mau makan permen dan jajanan di warung,” lanjut Arpiah yang membuka warung kelontong di depan rumahnya.
MENGELUH SAKIT
Hari berikutnya, Baihaqi tampak lemas. Meski demikian, si kecil masih mau makan bubur. Baihaqi juga merengek-rengek minta agar-agar dan makanan kecil. Lantaran warung Aipah tak jualan agar-agar, ditemani kakaknya, Baihaqi membeli ke lain warung.
Tak terlintas di benak wanita asal Cikarang (Jabar) itu jika anaknya menderita demam berdarah. “Memang, sih, badannya masih panas. Saya nyesel, kenapa saya enggak memeriksakan darahnya. Saya pikir, dia hanya panas biasa. Apalagi, sore harinya dia masih cerita-cerita sama bapaknya sambil tiduran di warung. Malah dia sempat minta satu set
mainan binatang seperti sapi, kerbau, kambing, dan kuda putih. Katanya dia mau terbang sama kuda putih,” lanjut Arpiah yang langsung memenuhi permintaan Baihaqi.
Selasa malam itu, Baihaqi masih tidur pulas. Bahkan, ia juga tidak rewel, seperti layaknya anak kecil yang sakit. “Sebenarnya dia sudah berkali-kali sakit sejak umur tujuh bulan. Biasanya saya membawanya ke RS Carolus. Dulu, sih, sakit panas biasa yang habis minum obat langsung turun panasnya. Makanya saya enggak kepikiran lagi membawanya ke RS. Apalagi dia masih lincah, beda dengan sakit-sakit sebelumnya yang bawaannya lemes,” sesal Arpiah.
Malam itu, Baihaqi masih doyan makan. “Memang, sih, dia tampak tersedak di tenggorokannya. Tapi, habis makan dia bisa tidur pulas. Menjelang tidur, dia minta pantatnya ditepuk-tepuk. Meski sudah 3,5 tahun, dia memang masih netek sama saya. Nah, waktu mau saya tetekin, dia enggak mau. Dia juga enggak mau minum obat yang diberikan mantri. Dia hanya minta kepalanya dikompres.” Namun, Rabu pagi jam 04.30, kondisi Baihaqi turun drastis. Tanpa pikir panjang, Arpiah membawanya ke RS Budhi Asih. “Saya peluk dia sambil membonceng saudara saya. Rencananya, suami saya akan segera menyusul. Kebetulan saya punya kartu sehat dari pemerintah.”
Sampai di RS sekitar setengah jam kemudian, Baihaqi langsung ditangani dokter. Baihaqi juga dioksigen. “Saat tangannya ditusuk jarum infus, dia mengaduh-aduh sambil mengeluh sakit. Sungguh saya ikut merasakan penderitaannya,” ratap Arpiah sembari terisak.
JENGUK ANAK TETANGGA
Mendengar keluhan buah kasihnya, dada Arpiah terasa ditusuk-tusuk. Ia iba melihat penderitaan Baihaqi. Batin Arpiah semakin teriris saat Baihaqi memanggil-manggil ayahnya. “Saat ayahnya datang, kondisinya sudah kritis. Kata dokter, dia kena DBD stadium tiga,” kata Arpiah yang wajahnya tampak letih.
Ibarat tersayat pisau tajam, batin Arpiah terasa perih tatkala Baihaqi menghembuskan napas terakhir, hanya sekitar satu jam setelah dirawat di RS. Parasnya tampak sembab menunjukkan kedukaan yang amat dalam. Jasad Baihaqi dimakamkan di kampung halaman Arpiah di Cikarang. “Saya menyesal sekali terlambat membawanya ke RS. Padahal, belum lama saya menjenguk anak tetangga yang kena DBD. Tapi, sama sekali saya tak membayangkan anak saya mengalami sakit yang sama.”
Kepergian Baihaqi merupakan kehilangan besar bagi Arpiah. Apalagi, ia dan suaminya memang mendambakan kehadiran anak lelaki. Baihaqi yang lahir 1 September 2000 pagi di Puskesmas, membuat kebahagiaan rumah tangganya semakin lengkap. Dua anak perempuannya, Indah Supiani (13) dan Novia Hariani (9) juga menyambut kehadiran Baihaqi penuh suka cita.
Masih terbayang jelas dalam ingatan Arpiah ketika Baihaqi begitu gembira bermain-main. “Waktu saya belikan mainan binatang, dia senang banget. Lalu, dia jejerin hewan-hewan itu di warung. Habis itu dirapiin dan dimasukin lagi dalam plastik. Dia memang anak pinter. Sudah bisa, lho, dia main kalkulator dan nyetel radio.”
Arpiah juga ingat betul si kecil yang suka jajan itu. “Kalau ada pedagang makanan lewat, selalu dia berhentiin. Sampai-sampai ada yang tanya berapa, sih, jajannya sehari. Saya, sih, enggak apa-apa. Kan kami kerja juga buat anak, kan. Sebisa mungkin saya memang memenuhi permintaannya,” lanjut Arpiah sambil menunjukkan foto terakhir keluarganya saat Baihaqi berusia tiga tahun. Matanya pun kembali meredup.
December 25, 2008 at 4:35 am
Kalau boleh tahu…ada no tlpnya / Hp / Flexi / GSM dari ortu yg ditinggalkan oleh anaknya…?
Kamipun senasib….anak saya meninggal dalam usia 10 thn (DB)…..
Andi / 022 – 70775575 / 022 – 4522828
January 14, 2009 at 4:00 am
Kami juga kehilangan putri kecil kami (2,5 th) karena DB (9 Desember 2008)..
dian-081310803457